Makalah Hadits : Hadits Pada Masa Sahabat

Kata Pengantar

Atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa,kami telah menyelesaikan makalahini. Makalah yang kami susun berjudul  “ HADIST PADA MASA SAHABAT ” makalah ini berisi pemaparan tentang hadist pada masa para sahabat.

Makalah ini tidak akan terwujud tanpa bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu perkenankan kami mengucapkan terima kasih kepada paradosen fakultas tarbiyah khususnya kepada bapak dosen mata kuliyah al-hadist dan teman-teman yang secara langsung maunpun tidak hingga kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.

Semoga bantuan yang diberikan kepada kami dalam menyelesaikan makalah ini secara langsung maupun tidak langsung, mendapatkan balasan dari Tuhan YangMaha Esa. Kami menyadari bahwa dalam menulis makalah ini, masih jauh dari sempurna,mengingat keterbatasan kemampuan kami . Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun akan sangat berguna bagi penulisan makalah selanjutnya, semoga makalah ini dapat berguna, khusunya bagi kami dan umumnya dapat memperluas pengetahuan bagi pembaca.

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                                                                                   

 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR……………………………………………………………………..1

DAFTAR ISI.……………………………………………………….……………….2

 

BAB I PENDAHULUAN..……………………………………………………………..3

1.1 Latar belakang….……………………………………………………………….3

BAB II PEMBAHASAN………………………………………………………………..4

Pengertian sahabat…………………………………………………………………………4

Sahabat dan Periwayatan Hadist………………………………………..……………….5

Cara Sahabat Menerima Hadist dari Sahabat Lain……………………………………………..6

Masa Penyebarluasan Hadist ke Sahabat Lain……………………………………………8

Sahabat Yang Meriwayatkan Hadist Nabi SAW…………………………………………9

 

 

3.1. KESIMPULAN……………………………………………………………….10

3.2. SARAN…………………………………………………………………………..11

3.3. DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………12

 

 

 

 

                                                                                                                                   

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.            Latar belakang

 

Hampir semua orang Islam sepakat akan pentingnya peranan hadis dalam berbagai disiplin keilmuan Islam seperti tafsir, fiqh, teologi,  akhlaq dan lain sebagainya. Sebab secara struktural hadis merupakan sumber ajaran Islam yang kedua setelah al-Qur’an, dan secara fungsional hadis dapat berfungsi sebagai penjelas (bayan) terhadap ayat-ayat yang mujmal atau global.   Hal itu dikuatkan dengan berbagai pernyataan yang gamblang dalam al-Qur’an itu sendiri yang menunjukkan pentingnya merujuk kepada hadis Nabi, misalnya Q.S> al-Ahzab  [33]: 21,  36, al-Hasyr [59]:  7.

 

Berita tentang prilaku Nabi Muhammad (sabda, perbuatan, sikap ) didapat dari seorang sahabat atau lebih yang kebetulan hadir atau menyaksikan saat itu, berita itu kemudian disampaikan kepada sahabat yang lain yang kebetulan sedang tidak hadir atau tidak menyaksikan. Kemudian berita itu disampaikan kepada murid-muridnya yang disebut tabi’in (satu generasi dibawah sahabat) . Berita itu kemudian disampaikan lagi ke murid-murid dari generasi selanjutnya lagi yaitu para tabi’ut tabi’in dan seterusnya hingga sampai kepada pembuku hadist (mudawwin).Pada masa Sang Nabi masih hidup, Hadits belum ditulis dan berada dalam benak atau hapalan para sahabat. Para sahabat belum merasa ada urgensi untuk melakukan penulisan mengingat Nabi masih mudah dihubungi untuk dimintai keterangan-keterangan tentang segala sesuatu.

Kita sudah cukup mengetahui tentang pengertian tentang ilmu hadist, pembagian hadist dan kedudukan hadist dalam alqur’an hingga perkembangan hadist tersebut dari masa ke masa nya yang dimulai semenjak zaman Nabi Muhammad SAW sampai dengan berkembangnya hadist kontemporer yang dikarang oleh banyak golongan syi’ah saat ini. Dalam hal ini untuk menjaga keeksistensian para sahabat dalam meriwayatkan hadist Nabi SAW baik secara langsung bertemu atau hanya melihat Nabi SAW saja ketika dalam majelis sehingga dapat meriwayatkan banyaknya hadist-hadist hingga menkodifikasikan hadist tersebut. Untuk itu dalam makalah ini kami ingin mengungkapkan secara ringkas tentang arti dan peranan sahabat tersebut dalam periwayatan hadist dari NabiMuhammad SAW, serta hal-hal yang berkaitan lainnya yang menyangkut tentang seputar sahabat Nabi SAW dalam penyebarluasan serta penyampaian hadist ke sahabat lainnya.                                                                       

 

BAB II

Pembahasan

  1. A.    Pengertian Sahabat

Secara umum para ulama hadist mengatakan bahwa yang dikatakan sahabat adalah umat islam yang pernah melihat Rasul Allah.

 

Para ulama mendefinisikan sahabat sebagai berikut :

 

1.Muhammad Nawawi al-Jawi berpendapat bahwa orang yang dinyatakan sahabat Nabi itu adalah setiap mukmin yang berkumpul dengan Nabi setelah beliau diangkat menjadi Rasul, meskipun belum ada perintah untuk berda’wah. Yakni, dengan pertemuan yang saling mengenal walaupun dalam keadaan gelap, buta, belum baliqh, bahkan hanya sekedar bertemu atau melihat atau dilihat Nabi kendatipun dengan jarak  jauh, hal ini dinyatakan tetap sebagai sahabat Nabi.

 

2.Al-Bukhari menyatakan yang disebut sahabat itu adalah orang yang menyertai Nabi atau melihatnya sedangkan dia dari kalangan orang-orang islam, maka ia adalah sahabat.

 

3.Menurut Ibnu Hazm bahwa yang dinamakan sahabat Rasul itu adalah setiap orang yang pernah bersama-sama dengan nabi dalam suatu majlis,walaupun sesaat dan dapat mendengarkan pembicaraan Nabi walaupun sekalimat atau dapat melihat sesuatu yang  ia memahaminya dari Nabi itu.

 

4.Ibnu al-Shalah dalam muqaddimah bukunya mengatakan bahwa menurut kalangan ulama ahli hadist, seperti yang dinyatakan oleh Ibnu al-Mudhaffar al-sam’ani, bahwa yang dinamakan sahabat nabi itu adalah orang-orang yang meriwayatkan hadist secara langsung dari Nabi walaupun hanya satu buah saja.Bahkan menurut para ulama, orang yang hanya melihat Nabi bias disebut sebagai sahabat.

 

Jadi, sahabat adalah orang yang menyertai Nabi selama beliau menyebarkan Risalah kenabiannya. Di sini peranan sahabat dalam membantu nabi sangat berarti, baik ketika Nabi hidup, maupun setelah wafatnya,terutama dalam menyebarkan da’wah Islam ke seluruh jazirah Arab.Bahkan mereka berhasil menciptakan generasi yang lebih baik setingkat berada dibawah mereka yaitu generasi tabi’in.

 

 

 

  1. B.      Sahabat dan Periwayatan Hadist

 

Periwayatan hadis pada masa sahabat terutama pada masa al-Khulafa’ al-Rosyidin sejak tahun 11 H sampai 40 H, yang di sebut juga masa sahabat besar, belum begitu berkembang. Pada satu sisi perhatian para sahabat masih terfokus pada pemeliharaan dan penyebaran al-qur’an dan mereka membatasi periwayatan hadis tersebut. Masa ini disebut dengan masa pembatasan dan memperketat periwayatan. Pada sisi yang lain,meskipun perhatian sahabat terpusat pada pemeliharaan dan penyebaran al-Qur’a, tidak berarti mereka tidak memegang hadis sebagai mana halnya sebagaimana yang mereka diterima secara utuh ketika nabi masih hidup. Mereka sangat berhati-hati dan mebatasi diri dalam meriwayatkan hadis itu.

 

Cara-cara sahabat Nabi dalam meriwayatkan  hadist ada dua:

  1. Adakala dengan  lafal asli, yakni manurut lafal yang merek  terima dari  Nabi  yang mereka hafal benar lafal dari nabi itu’
  2. Adakala dengan maknanya saja, yakni mereka meriwayatkan maknanya bukan lafalnya, karena mereka tidak  hafal lafalnya yang asli dari Nabi SAW. Memang mereka meriwayatkan hadis adakala dengan maknanya saja . yang penting hadis adalah : “isi”. Bahasa dan lafal boleh disusun dengan kata-kata lain , asal isinya sudah ada sama.

Kesungguhan sahabat dalam menerima hadist, tampaknya lebih diperlihatkan Umar, sehingga riwayat ini tersampaikan ke generasi berikutnya. Dan melihat periwayatan hadist baik di zaman Rasul maupun sesudah Rasul seperti yang terdapat dalam riwayat-riwayat dari sahabat Nabi,dimana para sahabat tidak sederajat dalam menerima periwayatan ini bahkan dalam mengetahui keadaan Rasul itu sendiri. Ketidak sederajatan itu disebabkan keadaan mereka tidak sama, seperti ada yang tinggal di kota, didaerah. Sibuk berdagang, bertani, terus menerus beribadah dan tinggal dimesjid, sering bepergian, dan Nabi pun tidak selalu mengadakan  ceramah terbuka. Sementara periwayatan itu berlangsung dari mulut ke mulut melalui kekuatan hafalan, yakni menerimanya dengan metode menghafal pula meskipun ada sebagian kecil yang mencatatnya.Keadaan demikian menuntut orang di kalangan sahabat yang berpikiran cemerlang, berotak brilian dan berkesempatan bergaul dengan Rasul secara rutin, yang diperlukan untuk menjadi mediator atau penyampai hadist yang diterimannya langsung dari Rasul untuk disampaikan kepada mereka sepertiyang dilakukan Umar dan tetangganya.

 

 

  1. C.    Cara Sahabat Menerima Hadis Pada Masa Nabi Muhammad Saw.

 

Banyak terdapat berbagai macam hadis yang terhimpun di dalam kitab-kitab hadis. Yang kita lihat sekarang ini adalah berkat kegigihan dan kesungguhan para sahabat dalam menerima dan memelihara hadis pada masa dahulu.Cara  para sahabat  menerima hadis pada  masa Rasulullah Saw berbeda dengan cara yang dilakukan oleh generasi setelah itu. Cara para sahabat menerima hadis dimasa Nabi Muhammad Saw yaitu dilakukan oleh sahabat yang dekat dengan beliau, seperti Khaula Faurra Syidan, dimasa Nabi parasahabat mempunyai minat yang besar untuk memperoleh hadis dari pada Nabi Muhammad Saw. oleh karena itu mereka berusaha keras mengikuti Nabi Muhammad Saw agar perkataan, perbuatan atau taqrir beliau dapat mereka terima atau mereka lihat secara langsung. Jika diantara para sahabat ada yang berhalangan maka dicari sahabat yang lain untuk dapat mendengar dan melihat apa yang disampaikan. Nabi Muhammad Saw pokoknya setiap Nabi menyampaikan sesuatu hukum atau melakukan ibadah apapun jangan sampai tidak ada sahabat yang melihatnya. Siapa diantara sahabat yang bertugas menemui dan mengikuti Nabi serta mendapatkan hadis dari beliau, maka ia segera menyampaikan untuk sahabat-sahabat yang lain.

 

Dalam hal ini ada empat cara yang ditempuh oleh para sahabat untuk mendapatkan hadis dari Nabi Muhammad Saw.

 

1.Para sahabat selalu mendatangi pengajian-pengajian yang disampaikan oleh Rasulullah Saw. Rasulullah selalu menyediakan waktu bagi para sahabat untuk menyampaikan berbagai ajaran agama Islam. Para sahabatpun selalu berusaha mengikuti berbagai majelis yang disitu disampaikan berbagai pesan-pesan keagamaan walaupun mereka mengikuti secara bergiliran.Jika ada sahabat yang tidak bisa hadir maka disampaikan oleh sahabat-sahabat yang hadir.

 

 2.Rasulullah Muhammad Saw sendiri yang mengalami berbagai persoalan yang Nabi sendiri yang menyampaikan persoalantersebut kepada para sahabat, jika sahabat yang hadir jumlahnya banyak maka apa yang disampaikan oleh Nabi dapat tersebar luas.

 

3.Diantara para sahabat mengalami berbagai persoalan kemudian mereka menanyakan langsung kepada Rasulullah Saw tentang bagaimana hukumnya terhadap persoalan tersebut. Kemudian Rasulullah Muhammad Saw segera memberikan fatwa atau penjelasan hokum tentang peristiwa tersebut. Kasus yang dialamisahabat apakah kasus yang terjadi pada diri sahabat itu sendirimaupun terjadi pada sahabat  yang  lain.Pokoknya jika diantara para sahabat mengalami satu-satu masalah, para sahabat tidak merasa malu-malu untuk datang secara langsung menanyakan pada Rasulullah Saw. Jika ada juga para sahabat yang malu bertanya langsung pada Rasulullah maka sahabat mengutus sahabat yang lain yang berani menanyakan secara langsung tentang peristiwa apa yang dialami sahabat pada waktu itu, sehingga tidak ada persoalan yang tidak jelas hukumnya..

 

4.Kadang-kadang ada juga sahabat yang melihat secara langsung Rasulullah Saw  melakukan satu-satu perbuatan, hal ini berkaitan dengan ibadah seperti shalat, zakat, puasa, dan ibadah haji serta ibadah-ibadah  lainnya. Para sahabat yang menyaksikan hal tersebut segera menyampaikan untuk sahabat yang lain atau generasi sesudahnya, diantaranya yaitu peristiwa yang terjadi antaraRasulullah dengan malaikat Jibril mengenai masalah iman, Islam,ikhsan dan tanda-tanda hari kiamat.

D. Masa Penyebarluasan Hadist Ke Sahabat Lain

 Para sahabat selalu berusaha agar periwayatan hadis bisa tersebar luas keberbagai pelosok daerah.Hal ini terwujud setelah Rasulullah wafat.Yang nampak sekali terjadi pada masa Usman Ibnu Affan, karena mereka memberikan kelonggaran-kelonggaran kepada para sahabat untuk menyebarluaskan periwayatan hadis ke daerah-daerah lain yang dimulai dengan penyebaran syiar agama Islam mengikuti pula dengan penyebaranhadis-hadis.

beberapa kota yang banyak terdapat para sahabat dan aktifitas periwayatan hadis, antaranya :

 

1.Madinah.Dikota ini banyak terdapat para sahabat yang mempunyai ilmu agamayang mendalam, terutama bidang hadis diantaranya, Disyar r.a, AbdullahIbnu Sabid dan banyak sahabat- sahabat lainnya.

 

2. Mekkah  Dikota ini perkembangan hadis juga mengalami kemajuan hampir sama dengan kota Madinah. Disana ditunjuk Muaz Jabal sebagai guru yangmengajar penduduk setempat tentang halal dan haram.Peranan kotaMekkah dalam hal penyebaran hadis pada masa selanjutnya adalah sangat signifikan terutama pada musim-musim haji, dimana pada waktu itu merupakan sangat tepat. Dimana para sahabat saling bertemu satu sama lainnya, terutama para tabi’in. Waktu itu terjadi penukaran informasi tentang hadis yang kemudian mereka bawa pulang ke daerah masing-masing.

 

3. Kufah danBasrahSetelah Irak ditaklukkan pada masa Khalifah Umar Ibnu Al-Khattab dikota Keffah tinggallah sejumlah para sahabat yang terkenal seperti Ali IbnuAbi Thalib, Sa’ad Zaid Amru Ibnu Nufail dan sahabat-sahabat yang lain.Begitu juga di kota Basrah banyak terdapat sahabat-sahabat, sepertiAnas Ibnu Malik yang dikenal sebagai Imam Fi Al-Hadis diBasrah, AbuMusa Al-Asyari, Abdullah Ibnu Abbas dan sahabat-sahabat yang lain.Periwayatan hadis pada masa tabi’in umumnya masih bersifat dari mulut ke mulut, bagaikan seorang murid mendengar hadis pada gurunya, lalu disimpan didalam hatinya dengan menghafalkan hadis-hadis tersebut.Sedangkan pada sahabat, tabi’in dan tabi’in tabi’in tradisi itulah makin berkembang dan terarah pada kegiatan-kegiatan mencari hadis sampai mereka harus pergi ke tempat yang jauh untuk mencari dan menelitiva liditas dari hadis tersebut, atau hanya untuk bersilaturrahmi dengan sahabat-sahabat yang lain. Disitulah mereka bisa memperoleh hadis.Cara yang seperti ini umumnya dilakukan oleh para tabi’in karena dengan yang demikian terjadilah pertukaran riwayat antara satu dengan yang lainnya.

 

 

 

  1. D.    Sahabat Yang Meriwayatkan Hadist Nabi SAW

 

Penting untuk diketahui, bahwa para sahabat telah dianggap banhyak meriwayatkan hadis bila ia sudah meriwayatkan lebih dari 1000 hadis.Mereka itu adalah Abu Hurairah, Abdullah bin Umar, Anas bin Malik,Sayyidah Aisyah, Abdullah bin Abbas, Jabir bin Abdullah, dan Abu Said al-Hudri.

 

  1. 1.              Abu Hurairah

 

 Abu Hurairah adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis di antara tujuh orang tersebut.Baqi bin Mikhlad mentahrijkan hadis Abu Hurairah sebanyak 5374 Hadis. Di antara jumlah tersebut 352 hadis disepakati oleh Bukhori Muslim, 93 hadis diriwayatkan oleh Bukhori sendiri dan 189 hadis diriwayatkan oleh Muslim sendiri.Menurut keterangan Ibn Jauzi dalam Talqih Fuhumi al Atsar bahwa hadis yang diriwayatkannya sebanyak 5374, tapi menurut al Kirmani berjumlah 5364 dan barada dalam Musnad Ahmad terdapat 3848 buah hadis.

 

  1. 2.      Abdullah bin Umar

 

Hadis yang beliau riwayatkan sebanyak 2630 hadis. Di antara jumlah tersebut yang muttafaq alaihi sebanyak 170 hadis, yang dari Bukhori sebanyak 80 hadis dan yang dari Muslim sebanyak 31 hadis.Abdullah bin Umar adalah putra kholifah ke dua yaitu kholifah Umar  bin Khottob dan saudara kandung sayyidah Hafsah ummul mukminin.

 

  1. 3.              Anas bin Malik 

 

Hadis yang beliau riwayatkan sebanyak 2286 hadis. Di antara jumlah tersebut yang muttafaq alaihi sebanyak 168 hadis yang diriwayatkan Bukhori sebanyak 8 hadis dan yang diriwayatkan Muslim sebanyak 70hadis. Nama lengkap Anas bin Malik adalah Anas ibn Malik ibn an Nadzor ibn Damdam ibn Zaid ibn Harom Ibn Jundub ibn Amir ibnGonam ibn Addi ibn an Najar al anshori. Ia dikenal juga dengan sebutan Abu Hamzah. Anas bin Malik lahir pada tahun 10 sebelum hijrah dan wafat pada tahun 93 h di basrah.Beliau adalah sahabat yang paling akhir meninggal di basroh.

 

  1. 4.      Aisyah binti Abu Bakar Al-shiddiq (w. 58 H.)

Hadis yang beliau riwayatkan 2.210 Hadis.

 

  1. 5.      Abdullah Ibn Abbas (3 SH – 68 H.)

Hadis yang beliau riwayatkan 1.660 Hadis.

 

  1. 6.      Jabir Ibn Abdullah (16 SH – 78 H)

Hadis yang beliau riwayatkan 1.540 Hadis.

 

  1. 7.       Abu Sa’id Al-khudri (w. 74 H.)

Hadis yang beliau riwayatkan 1.170 Hadis.

 

BAB III

PENUTUP

 

  1. A.    KESIMPULAN

 

Dari uraian yang terdapat pada bab pembahasan dapat disimpulkan:

 

1.Sahabat adalah orang yang menyertai Nabi selama beliaumenyebarkan Risalah kenabiannya. Di sini peranan sahabat dalammembantu nabi sangat berarti, baik ketika Nabi hidup, maupun setelah wafatnya, terutama dalam menyebarkan da’wah Islam ke seluruh jazirah Arab.

 

2.Periwayatan dilakukan secara berlangsung dari mulut ke mulut melalui kekuatan hafalan, yakni menerimanya dengan metode menghafal pula meskipun ada sebagian kecil yang mencatatnya.

 

3.Penyebaran hadist Nabi SAW pada waktu itu telah mencangkup didaerah Mekkah, Madinah, Kufah danBusrah.

 

.4.Sahabat-sahabat yang paling banyak meriwayatkannya adalah : AbuHurairah, Abdullah Ibn Umar Ibn Khattab, Anas Ibn Malik, AisyahAshshiddiqiyyah, Abdullah Ibn Abbas, jabir Ibn, AbuSaid Al-Khudri. Tak ada dalam kalangan sahabat meriwayatkan hadis lebih dari seribu, selain mereka ini.

 

  1. B.     SARAN

 

Kami selaku pemakalah mohon maaf atas segala kekurangan yangterdapat dalam makalah ini, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dansaran dari teman-teman semua agar makalah ini dapat dibuat dengan lebih baik lagi.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Muhammad Mustafa ‘Azami, Metodologi Kritik Hadis, ter.A.Yamin ( Jakarta: Pustaka Hidayah, 1996), 52.

Muhammad Mustafa ‘Azami, The Place of Hadith in Islam (Maryland: International Graphich Printing Service, 1980, hlm. 35.

 

Shalah al-Din ibn Ahmad al-Adhabi, Manhaj Naqd a-Matn ‘Ind ‘ulama’ al-hadits al-Nabawi, (Beirut: Dar al-Falaq al-Jadidah, 1983 M), hlm. 47.

 

Al Ihkam fi Ushuli’l-Ahkam II : 139

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s