Aside
0

Penjara Suci

Jauh di penjuru sana

Terpencil dan tidak terkucilkan

Mata pun terpandang padanya

Harum semerbak, kian menghiasinya

            Menghabiskan hari disana

            Seperti membunuh kafir harbi

            Membaca buku disana

            Seperti shalat sunnat 60 rakaat

Tempat peradaban

Tempat kejayaan

Tempat referensi keagamaan

Jayalah penjaraku

            Terbelenggu di sana

            Teratur di sana

            Akan menjadi keunggulan

            Di masa depan 

Penjara suci

Penjara abadi

Penampung para mujtahid

Yang berani untuk mati

 

            

0

Suasana Libur di Pondok Dawam

Suasana yang lekat dengan kebersamaan di suatu pondok adalah hal yang lumrah, bagaimana tidak lumrah, semua santri yang ada di suatu pondok pesantren setiap hari bertatap muka, saling berinteraksi, saling memberi dan saling meminta. Itulah yang disebut dengan kebersamaan di pondok pesantren.

Dalam keadaan sibuk dengan beberapa aktivitas pun, mereka sempat – sempatnya untuk bercanda gurau antara satu dengan yang lainnya, contohnya ketika sedang padat kuliah di kampusnya masing – masing, sempat – sempatnya juga mereka becanda, dengan candaan yang khas dari masing – masing daerah.

Rabu (10/4) sebagian kecil dari santri Pondok Pesantren ini libur, karena istirahat dari UTS kuliahnya, mereka itu adalah mahasiswa yang kuliah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang ada di jurusan baru dari fakultas Tarbiyah dan keguruan yaitu jurusan Manajemen Pendidikan Islam. Mereka itu adalah Emas Kurnia ( Pamijahan, Tasikmalaya, Jawa Barat), Mahrus Ali ( Padaherang, Ciamis, Jawa Barat ) dan Sahrul Ramadhan (  Padaherang, Ciamis, Jawa Barat ).

Sebagian besar dari santri yang mondok disini, mereka berangkat ke kampusnya masing – masing, karena santri yang mondok di pesantren ini bukan hanya kuliah di satu kampus saja, melainkan di beberapa kampus yang ada di Yogyakarta, baik itu yang negeri maupun yang swasta. Inilah yang membuat variasi dalam kehidupan di pondok ini.

 

0

Aktivitas di Pondok Pesantren Daarul Ulum Wal Hikam

Setelah para santri kader bangsa pulang dari kampusnya masing – masing, mereka melakukan aktivitas kepesantrenan mulai dari jama’ah maghrib. Jama;ah adalah kewajiban yang sangat penting bagi para santri yang senantiasa berada di pesantren, karena menurut bapak K.H Irfan Hielmy (Alm) pengasuh pondok pesantren Darussalam Ciamis, menerangkan bahwa kegiatan yang paling dasar di para santri adalah mengaji dan berjama’ah. Ini juga diterapkan di pondok yang sangat luar biasa ini. Luar biasanya adalah pesantren ini menampung santri yang berasal dari beberapa pesantren yang ada di Indonesia, akan tetapi untuk generasi awal pesantren ini mengambil dari dua provinsi besar yaitu : Jawa Barat dan Jawa Tengah antara daerah Tasikmalaya, Ciamis, Blora, Semarang dan Pati. Mereka digembleng dengan pendidikan yang sangat lengkap, mulai keagamaan, umum, penghidupan dan bagaimana cara menghadapi tantangan hidup. 

Setelahnya para santri mengikuti shalat berjama’ah, mereka tidak langsung beranjak dari tempat duduknya, melainkan mengikuti wiridan terlebih dahulu, sesuai dengan hadits nabi Muhammad Saw, yang menerangkan bahwa orang yang meninggalkan wiridan setelah shalat berjama’ah maka ia termasuk orang yang disamakan dengan monyet atau kera dalam kehinaanya. Wiridan adalah sesuatu yang biasa dilakukan oleh para santri setiap hari di seluruh  pesantren yang ada di Indonesia. 

 

0

Makalah PBO : Konflik dalam Organisasi

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A.                 LATAR BELAKANG

Organisasi mengalami perubahan karena organisasi selalu menghadapi berbagai macam tuntutan kebutuhan. Tuntutan itu timbul sebagai akibat pengaruh lingkungan (eksternal dan internal) organisasi yang selalu berubah.

Untuk menghadapi faktor penyebab perubahan tersebut, organisasi harus dapat menyesuaikan diri dengan pengadakan berbagai perubahan dalam dirinya. Perubahan-perubahan itu tentunya ke arah pengembangan organisasi yang lebih baik.

Berbicara mengenai perubahan yang direncanakan dalam organisasi berarti menyangkut pengembangan organisasi. Pengembangan organisasi berhubungan dengan suatu strategi, sistem, proses-proses guna menimbulkan perubahan organisasi sesuai dengan rencana, sebagai suatu alat guna menghadapi situasi-situasi yang berubah yang dihadapi oleh organisasi modern dan yang berupaya untuk menyesuaikan diri (mengadaptasi) dengan lingkungan mereka. Teknik-teknik dalam melakukan pengembangan organisasi meliputi latihan labolatorium, latihan manager, grid, feedback survei, pembentukan tim, konsultasi proses, pengembangan karir, desain pekerjaan, manajeman ketegangan dan lain-lain.[1]

Melakukan perubahan ke arah pengembangan organisasi ini, tidak luput dari timbulnya berbagai problem-problem yang justru dapat membahayakan kelangsungan organisasi. Problem pengembangan juga merupakan salah satu problem pelik yang harus dipecahkan oleh para manajer, karena bukan saja organisasi-organisasi perlu dikembangkan, tetapi pula manusia di dalam organisasi tersebut perlu pula diikut sertakan dalam pengembangan organisasi, dalam rangka usaha menghadapi pihak saingan dan tuntutan lingkungan. Salah satu masalah penting yang dapat terjadi dalam perubahan dan pengembangan organisasi adalah konflik. Problem konflik itu tidak dapat dihindari dalam organisasi, dengan kata lain konflik pasti terjadi dalam organisasi karena konflik bersifat alamiah.[2]

 

  1. B.                 RUMUSAN MASALAH

Adapun rumusan masalah dari makalah ini yaitu :

  1. Apa sajakah teknik-teknik dalam perubahandanpengembangan organisasi?
  2. Apa sajakah model perubahandanpengembangan organisasi?
  3. Apa sajakah agen pengubah dalam pengembangan organisasi?

 

  1. C.                TUJUAN

Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan penulisan makalah ini sebagai berikut :

  1. Memahami makna perubahandanpengembangan organisasi
  2. Memahami teknik perubahandanpengembangan organisasi
  3. Memahami model perubahandanpengembangan organisasi
  4. Mengetahui agen pengubah dalam pengembangan organisasi

 

.

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

 

A.     PERUBAHAN ORGANISASI

 

Sebuah perubahan dapatlah terjadi pada apapun dan siapapun tidak terkecuali dengan organisasi. Tidak banyak individu atau organisasi menyukai adanya perubahan, namun perubahan tidak dapat dihindari namun harus di hadapi.[3]

 

Faktor perubahan dapat terjadi karena 2 faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

 

a.   Faktor internal

Adalah segala keseluruhan faktor yang ada di dalam organisasi dimana faktor tersebut dapat mempengaruhi organisasi dan kegiatan organisasi. Adalah penyebab perubahan yang berasal dari dalam organisasi yang bersangkutan, yang dapat berasal dari berbagai sumber.Problem yang sering timbul berkaitan dengan hubungan sesame anggota organisasi pada umumnya menyangkut masalah komunikasi dan kepentingan masing-masing anggota. Proses kerja sama yang berlangsung dalam organisasi juga kadang-kadang merupakan penyebab dilakukannya perubahan. Problem yang timbul dapat menyangkut masalah sistem kerjasamanya dan dapat pula menyangkut perlengkapan atau peralatan yang digunakan. Sistem kerja sama yang terlalu birokratis atau sebaliknya dapat menyebabkan suatu organisasi menjadi tidak efisien. System birokrasi (kaku) menyebabkan hubungan antar anggota menjadi impersonal yang mengakibatkan rendahnya semangat kerja dan pada gilirannya produktivitas menurun, demikian sebaliknya. Perubahan yang harus dilakukan akan menyangkut struktur organisasi yang digunakan.

Contoh Faktor Internal :[4]

          a.  Perubahan kebijakan lingkungan

          b.  Perubahan tujuan

          c.  Perluasan wilayah operasi tujuan

          d.  Volume kegiatan bertambah banyak

          e.  Sikap & perilaku dari para anggota organisasi.

b.   Faktor eksternal

Adalah segala keseluruhan faktor yang ada di luar organisasi yang dapat mempengaruhi organisasi dan kegiatan organisasi. Beberapa faktor tersebut antara lain : Politik, Hukum , Kebudayaan, Teknologi, Sumber alam, Demografi dan sebagainya. Adalah penyebab perubahan yang berasal dari luar, atau sering disebut lingkungan. Organisasi bersifatresponsive terhadap perubahan yang terjadi di lingkungannya. Oleh karena itu, jarang sekali suatu organisasi melakukan perubahan besar tanpa adanya dorongan yang kuat dari lingkungannya. Artinya, perubahan yang besar itu terjadi karena lingkungan menuntut seperti itu. Beberapa penyebab perubahan organisasi yang termasuk faktor ekstern adalah perkembangan teknologi, faktor ekonomi dan peraturan pemerintah.

Contoh Faktor Eksternal :[5]

          a. Politik

          b. Hukum

          c. Kebudayaan

          d. Teknologi

          e. Sumber daya alam

          f. Demografi

          g. Sosiologi 

 

B.    PROSES PERUBAHAN

Ada dua pendekatan penanganan perubahan organisasi:

1.      Proses perubahan reaktif. Manajemen bereaksi atas tanda-tanda bahwa perubahan dibutuhkan, pelaksanaan modifikasi sedikit demi sedikit untuk menangani masalah tertentu yang timbul. Sebagai contoh, bila peraturan baru dari pemerintah mensyaratkan perusahaan untuk mempunyai perlindungan terhadap kebakaran, maka manajer mungkin akan membeli alat pemadam kebakaran.

2.     Program perubahan yang direncanakan (planned change), disebut sebagai proses proaktif. Manajemen melakukan berbagai investasi waktu dan sumberdaya lainnya yang berarti untuk menguibah cara-cara operasi organisasi. Perubahan yang direncanakan ini didefinisikan sebagai perancangan dan implementasi inovasi struktural, kebijaksanaan atau tujuan baru, atau suatu perubahan dalam filsafat, iklim dan gaya pengoperasian secara sengaja. Pendekatan ini tepat bila keseluruhan organissi, atau sebagian besar satuan organisasi, harus menyiapkan diri untuk atau menyesuaikan dengan perubahan.

Di dalam proses perubahan, terdapat seorang atau individu yang bertanggung jawab atas peranan kepemimpinan dalam proses pengelolaan perubahan. Individu ini disebut dengan “Change Agent”(pengantar perubahan). Sedangkan individu atau kelompok yang merupakan sasaran perubahan disebut “sistem klien”. Pengantar perubahan ini dapat berasal dari para anggota organisasi atau dapat sebagai konsultan dari luar organisasi.[6]

 

Leavitt (1964), menyatakan bahwa organisasi dapat diubah melalui pendekatan struktur, pendekatan teknologi, dan pendekatan orang-orangnya. Pendekatan struktur adalah yang menyangkut aplikasi prinsip-prinsip perancangan organisasi yang misalnya: desentralisasi, tanggung jawab jabatan, garis wewenang yang tepat, penciptaan pembagian kerja dll. Pendekatan teknologi berkaitan dengan diubahnya teknik-teknik yang dipakai denga teknologi baru; perubahan ini dapat membawa konsekuesi pula pada perubahan struktur organisasi (menjadi pendekatan tekno-struktur). Bila pendekatan struktural dan teknik bermaksud untuk memperbaiki prestasi kerja organisasi melalui pengubahan situasi kerja yang tepat, maka pendekatan- pendekatan orang dimaksudkan untuk mengubah secara langsung perilaku karyawan melalui pemusatan dan ketrampilan, sikap, persepsi dan pengharapan mereka sehingga diharapkan akan melaksanakan tugas dengan lebih efektif. (dalam Handoko, 1991).[7]

 

a.     Penolakan Terhadap Perubahan

Penanganan penolakan terhadap perubahan:[8]

1. Pendidikan dan Komunikasi.

Biasa digunakan bila ada kekurangan informasi atau ketidakpastian informasi dan analisis.

2. Partisipasi dan Keterlibatan.

Biasa digunakan bila pengambilan inisiatif tidak mempunyai semua informasi yang dibutuhkan umtuk merancang perubahan dan orang lain mempunyai kekuasaan untuk menolak.

3. Kemudahan dan Dukungan.

Biasa dilakukan bila orang – orang pendakkan karna masalah – masalah adaptasi atau penyesuaian.

4. Negosiasi dan Persetujuan.

Biasa digunakan bila banyak dari orang atau kelompok dengan kekuatan cukup besar untuk menolak akan kalah dalam suatu perubahan.

5. Manipulasi dan Bekerjasama.

Biasa digunakan bila taktik – taktik lain dirasa kurang bekerja maksimal dan di sisi lain biaya atau cost yang dikeluarkan besar .

6. Paksaan eksplisit dan implisit.

Biasa digunakan bila kecepatan adalah hal yang paling penting dan para pengusul mempunyai kekuasaan yang besar.

 

 

b.    Proses Pengelolaan Perubahan

Proses pengelolaan perubahan harus mencakup dua gagasan dasar untuk mencapai efektifitas organisasi. Pertama ada retribusi kekuasaan dalam struktur organisasi, kedua retribusi ini dihasilkan dari proses perubahan yang bersifat pengembangan.

Tahap-tahap Proses Perubahan :[9]

1.      Tekanan dan desakan

Proses ini dimulai ketika manajemen puncak mulai merasa adanya kebutuhan atau tekanan akan perubahan. Misalnya adanya perubahan penjualan, penurunan produktivitas dan sebagainya.

2.     Intervensi dan Reorientasi

Digunakan untuk merumuskan masalah dan dimulai proses dengan membuat para anggota organisasi memusatkan perhatiannya pada masalah tersebut. Pihak-pihak luar sering digunakan, juga staff internal yang mempunyai dan dipandang ahli serta dapat dipercaya sebagai konsultan atau pengantar perubahan.

3.     Diagnosa dan pengenalan masalah

Informasi dikumpulkan dan dianalisa mana yang penting dan tidak penting.

4.     Penemuan dan pengenalan masalah

Pengantar perubahan mencoba menyelesaikan masalah-masalah yang diketemukan dan masuk akal dengan menghindari “metode-metode lama yang sama”. Bawahan didorong dan diajak untuk berpartisipasi, sehingga mereka lebih terikat pada serangkaian kegiatan.

5.     Percobaan dan hasil

Pada tahap keempat diuji dalam program-program yang berskala kecil dan hasilnya dianalisa.

6.    Pungutan dan penerimaan

Setelah diuji dan sesuai dengan keinginan, harus diterima secara sukarela dan harus menjadi sumber penguatan dan menimbulkan keterikatan pada perubahan.[10]

 

 

 

 

  1. C.                PENGEMBANGAN ORGANISASI

Pengembangan Organisasi (PO) merupakan cara pendekatan terhadap perubahan yang berjangka panjang dan lebih luas ruang lingkupnya dengan tujuan untuk menggerakkan seluruh organisasi ke arah tingkat fungsional yang lebih tinggi. (Indrawijaya, 1989:203)

Makna pengembangan oraganisasi menurut beberapa ahli : (Indrawijaya, 1989:203)

  • Robbins, pengembangan organisasi adalah sebuah metode yang bertujuan mengubah sikap, nilai dan keyakinan dari karyawan sehingga karyawan itu sendiri dapat mengidentifikasi dan mengimplementasikan perubahan teknis seperti reorganisasi, fasilitas yang dirancang ulang dan hal-hal yang dibutuhkan untuk meningkatkan organisasi mereka.
  • Christine S. Becker mendefinisikan pengembangan organisasi adalah suatu proses dari perubahan berencana terhadap orang – orang yang ada yang ada dalam organisasi secara keseluruhan. Pusat perhatiannya adalah perubahan organisasi dengan meneliti orang – orang yang ada dalam organisasi tersebut, mengenai bagaimana mereka bekerja sama sebagai suatu kesatuan, bagaimana berfungsi dalam unit merek masing-masing, dan apa yang perlu diubah sehingga mereka dapat bekerja secara efektif.
  • French dan Bell, pengembangan organisasi adalah suatu usaha jangka panjag untuk memperbaiki proses-proses pemecahan masalah dan pembaharuan organisasi, terutama melalui manajemen budaya organisasi yang lebih efektif dan kolaboratif dengan tekanan khusus pada budaya tim kerja formal dengan bantuan agen perubahan (change agent), katalisator, dan pengguna teori serta teknologi ilmiah kepeilakuan terapan dan mencakup riset kegiatan.
  • Bennis, pengembangan organisasi adalah suatu tanggapan terhadap perubahan, suaru strategi komplek yang bersifat pendidikan yang dimaksudkan untuk merubah berbagai pandangan, sikap, nilai dan struktur organisasi, agar organisasi dapat menyesuaikan secara lebih baik dengan teknologi, pasar dan tantangan-tantangan baru, serta tingkat kesulitan perubahan itu sendiri.[11]

 

 

1.1.      Teknik Pengembangan Organisasi

            Untuk melakukan pengembangan organisasi, maka diperlukan cara-cara atau teknik tertentu. Ada berbagai teknik yang dirancang para ahli, dengan tujuan meningkatkan kemampuan berkomunikasi serta bekerja secara efektif antar individu maupun antar kelompok dalam organisasi. Beberapa teknik yang sering digunakan berikut ini.[12]

  1. Sensitivity Training; merupakan teknik pengembangan organisasi yang pertama diperkenalkan dan yang paling sering digunakan. Teknik ini sering disebut juga T-group atau training group, group disini berarti peserta terdiri atas 6-10 orang, pemimpin kelompok membimbing peserta meningkatkan kepekaan (sensitivity) terhadap orang lain, serta keterampilan dalam hubungan antar pribadi.
  2. Team Building; adalah pendekatan yang bertujuan memperdalam efektifitas serta kepuasaan tiap individu dalam kelompok kerjanya. Teknik team building sangat membantu meningkatkan kerjasama dalam tim yang menangani proyek.
  3. Survey Feedback; dalam teknik survey ini tiap peserta diminta menjawab kuesioner yang dimaksud untuk mengukur persepsi serta sikap mereka (misalnya persepsi tentang kepuasan kerja dan gaya kepemimpinan mereka). Hasil survey ini diumpan balikkan pada setiap peserta, termasuk para penyelia dan manajer yang terlibat. Kegiatan ini kemudian dilanjutkan dengan kuliah atau lokakarya yang mengevaluasi hasil keseluruhan dan mengusulkan perbaikan-perbaikan konstruktif.
  4. Transcational Analysis (TA); teknik ini berkonsentrasi pada gaya komunikasi antar individu. TA dimaksudkan untuk mengurangi kebiasaan komunikasi yang buruk dan menyesatkan. Oleh sebab itu, teknik ini mengajarkan cara penyampaian pesan yang jelas dan bertanggung jawab dengan wajar dan menyenangkan.
  5. Intergroup Activities; fokus dalam teknik intergroup activities adalah peningkatan hubungan baik antar kelompok. Dimana ketergantungan antar kelompok yang membentuk kesatuan organisasi dapat menimbulkan banyak masalah dalam koordinasi. Karenanya, intergroup activities dirancang untuk meningkatkan kerjasama atau pemecahan konflik yang mungkin timbul akibat saling ketergantungan tersebut.
  6. Process Consultation; dalam process consultation konsultan pengembangan organisasi mengamati komunikasi, pola pengambilan keputusan, gaya kepemimpinan, kerjasama, dan pemecahan konflik dalam tiap unit organisasi. Kemudian konsultan memberikan umpan balik pada semua pihak yang terlibat tentang proses yang telah diamatinya, serta menganjurkan tindakan koreksi.
  7. Third-part Peacemaking; dalam menerapkan teknik ini, konsultan pengembangan organisasi berperan sebagai pihak ketiga yang memanfaatkan berbagai cara menengahi sengketa, serta berbagai teknik negosiasi untuk memecahkan persoalan atau konflik antar individu dan kelompok.

 

1.2.      Model Pengembangan Organisasi 

Pengenalan Persoalan

Analisa Organisasi

Umpan Balik

Pengukuran dan Penilaian                                                       Pengembangan Strategi Intervensi

Intervensi

0.2.3 Bagan Model Pengembangan Organisasi[13]

Pembuatan model pengambangan organisasi sangatlah perlu untuk dapat mempertajam dan mempermudah komunikasi antara agen pembaharu dengan mereka yang berada dalam organisasi tersebut. Model yang dikemukakan di atas, menggambarkan bahwa suatu program pengembangan organisasi haruslah mulai dari pengenalan bahwa dalam organisasi tersebut terdapat persoalan. Persoalan didiskusikan sehingga tercapai suatu kesamaan pendapat. Berdasarkan persoalan tersebutlah dilakukan analisa organisasi, yang dimaksudkan baik untuk meneliti kembali persoalan tersebut maupun untuk mencari sebabnya. [14]

Hasil analisa perlu disampaikan kepada anggota organisasi dalam bentuk umpan balik. Selanjutnya tanggapan terhadap umpan balik tersebut dapat digunakan untuk mengembangkan strategi perubahan. Kemudian strategi tersebut dilaksanakan dalam bentuk intervensi nyata untuk kemudian diukur dan dinilai hasilnya, dan pada akhirnya disampaikan berupa umpan balik.

Dari uraian tadi, maka model pengembangan organisasi memiliki manfaat sebagai berikut:

  • Berguna untuk lebih dapat memahami persoalan dan organisasi itu sendiri
  • Bermanfaat untuk lebih memahami faktor-faktor yang dapat mempengaruhi timbulnya suatu persoalan dan usaha pemecahannya
  • Bermanfaat untuk menyusun langkha-langkah tindak dalam melakukan pengembangan organisasi

 

1.3.      Agen Pengubah dalam Pengembangan Organisasi

Usaha perubahan suatu organisasi selalu ditandai oleh adanya orang-orang yang mempelapori, menggerakkan dan menyebarluaskan proses perubahan tersebut. Mereka adalah orang-orang yang disebut sebagai agen perubahan. Dalam rumusan Havelock (1973) agen perubahan adalah orang yang membantu terlaksananya perubahan atau suatu inovasi berencana. Inovasi sendiri adalah pengenalan dan penerapan hal-hal, gagasan, ide-ide baru. Agen pengubah (change agents) dapat berasal dari :[15]

  1. Agen Perubahan Eksternal : adalah individu dari luar organisasi yang diminta atau ditugasi untuk memberikan usulan tentang perubahan.
  2. Agen Perubahan Internal : adalah staf ahli dalam organisasi yang secara khusus dilatih untuk melakukan pengembangan organisasi
  3. Agen Perubahan eksternal-internal : adalah usaha memadukan orang-orang dari dalam dan luar organisasi dengan mengambil menfaat atau kelebihan dan mengurangi kelemahan dari agen perubahan internal dan eksternal.

Agen-agen Perubahan dapat berupa :[16]

  • Manajer
  • Karyawan
  • Konsultan luar

Kualifikasi dasar agen Perubahan :

  1. Kualifikasi Teknis : kompetensi teknis dalam tugas spesifik dari proyek perubahan yang bersangkutan.
  2. Kemampuan Administratif : yaitu persyaratan administratif yang paling dasar dan elementer, yakni kemauan untuk mengalokasikan waktu secara detail untuk persoalan-persoalan yang relatif sulit.
  3. Hubungan antar pribadi.

Seorang agen perubahan harus mampu menanamkan karakteristik dalam dirinya agar dapat menjadi panutan atau teladan bagi sekelompok orang yang menjadi target perubahannya. Menurut Havelock (1970) dalam Nasution, 1990:38,[17] agen pengubah dalam pengembangan organisasi memiliki karakteristik sebagai berikut :

  1. Agen perubahan harus memiliki nilai-nilai dan sikap mental yang dapat mempertimbangkan manfaat inovasi atau perubahan bagi organisasinya maupun masyarakat sekitar.
  2. Agen perubahan harus mengetahui bahwa individu, kelompok dan masyarakat dalam organisasi merupakan sistem-sistem terbuka yang saling berhubungan dimana agen perubahan harus mengetahui bagaimana orang lain memandang peranannya. Serta dapat memperkirakan konsep alternatif mengenai perubahan di masa sekarang dengan masa mendatang.
  3. Agen perubahan harus memiliki keterampilan untuk menyampaikan kepada orang lain mengenai pengetahuan, nilai-nilai dan keterampilan yang dimilikinya, mengembangkan dan memelihara hubungan proyek peubahan dengan orang lain, mengatasi kesalahpahaman dan konflik, membina tim kerja sama untuk perubahan, dan menyampaikan ke masyarakat akan potensi yang tersedia dari sumber-sumber mereka sendiri.

Menurut Rogers dan Shoemaker, agen perubahan berfungsi sebagai mata rantai komunikasi antar dua sistem sosial. Yaitu menghubungkan antara sistem sosial yang mempelopori perubahan dengan sistem  masyarakat yang dibinanya dalam usaha perubahan tersebut. Masyarakat disini berarti anggota organisasi.[18] Peran utama seorang agen perubahan yaitu  (Nasution, 2004:129) :

  1. Sebagai katalisator yang menggerakkan anggota organisasi untuk melakukan perubahan
  2. Sebagai pemberi pemecahan persoalan
  3. Sebagai pembantu proses perubahan yaitu dalam proses pemecahan masalah dan penyebaran inovasi, serta memberi petunjuk mengenai :
    1. Bagaimana mengenali dan merumuskan kebutuhan
    2. Bagaimana mendiagnosa permasalahan dan menentukan tujuan
    3. Mendapatkan sumber-sumber yang relevan
    4. Memilih atau menciptakan pemecahan masalah
    5. Menyesuaikan dan merencanakan pentahapan pemecahan masalah

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

  1. A.                KESIMPULAN

Organisasi sebagai suatu bentuk kehidupan dalam masyarakat juga mengalami perubahan, karena organisasi juga harus selalu menyesuaikan dengan perubahan-perubahan yang terjadi. Organisasi mengalami perubahan karena organisasi selalu menghadapi berbagai macam tantangan. Pengembangan organisasi mempunyai dua arti, yaitu pengembangan organisasi sebagai fungsi administrasi dan pengembangan organisasi sebagai fungsi spesialis atau sebagai suatu teknik manajemen. Pada dasarnya pengembangan organisasi merupakan usaha yang dilakukan secara berencana, terus menerus meliputi organisasi secara keseluruhan untuk meningkatkan evektifitas dan kesehatan organisasi dengan menerapkan azas-azas dan praktek yang dikenal dalam kegiatan organisasi.

 

B.       Saran

Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu penulis senantiasa dengan lapang dada menerima bimbingan dan arahan serta saran dan kritik yang sifatnya membangun demi perbaikan karya-karya berikutnya.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Amirullah, dkk. 2003. Perilaku Organisasi. Malang : Bayumedia.

Indrawijaya, Adam. 1989. Perubahan dan Pengembangan Organisasi. Bandung : Sinar Baru

Moekijat. 2005. Pengembangan Organisasi. Bandung : Mandar Maju.

Sigit, Soehardi. 2003. Perilaku Organisasional. Yogyakarta : BPFE UST.

Novri susan,2009.PengantarsosiologiKonflik Dan isu-isuKonflikkontemporer, kencanaprenada media grouf.

Dr. Edy sutrisno.2010,BudayaOrganisasi,Jakarta:prenada media grouf.

http://kahfiehudson.wordpress.com/2011/12/18/pengembangan-organisasi

http://sutondoscript.blogspot.com/2011/07/perubahan-dan-pengembangan-organisasi.html

 

 

 

 

 


[1]Amirullah, dkk. 2003. Perilaku Organisasi. Malang : Bayumedia.

[3]Indrawijaya, Adam. 1989. Perubahan dan Pengembangan Organisasi. Bandung : Sinar Baru

 

[4]Moekijat. 2005. Pengembangan Organisasi. Bandung : Mandar Maju.

[5]Ibid

[6]Sigit, Soehardi. 2003. Perilaku Organisasional. Yogyakarta : BPFE UST.

 

[8]Novri susan,2009.PengantarsosiologiKonflik Dan isu-isuKonflikkontemporer, kencanaprenada media grouf.

 

[9]Novri susan,2009.PengantarsosiologiKonflik Dan isu-isuKonflikkontemporer, kencanaprenada media grouf.

[10]Dr. Edy sutrisno.2010,BudayaOrganisasi,Jakarta:prenada media grouf.

 

[14]Indrawijaya, Adam. 1989. Perubahan dan Pengembangan Organisasi. Bandung : Sinar Baru

[15]Amirullah, dkk. 2003. Perilaku Organisasi. Malang : Bayumedia.

[16]Moekijat. 2005. Pengembangan Organisasi. Bandung : Mandar Maju.

[17]Novri susan,2009.PengantarsosiologiKonflik Dan isu-isuKonflikkontemporer, kencanaprenada media grouf.

 

[18]Indrawijaya, Adam. 1989. Perubahan dan Pengembangan Organisasi. Bandung : Sinar Baru