Makalah Tauhid : Atmosfer

BAB 1

PENDAHULUAN

 

1.1.Latar Belakang

Dalam perjalanannya, ilmu tauhid itu hanya bergelut pada masalah keillahian saja, tapi untuk zaman yang sudah bisa dikatakan modern ini ilmu tauhid bisa berevolusi atau berpindah acuan pada yang mungkin lebih relevan dengan keimanan kita sekarang.  Sering kali kita jumpai masalah – masalah yang terlihat baru disana, yang mungkin pada zaman dahulu belum ada, maka dari itu mulai dari ilmu – ilmu yang bercorak islam semuanya menyesuaikan dengan lajunya zaman.

Maka dari itu, ilmu tauhid[1] atau sering kali disebut dengan ilmu tentang keesaan Allah, menjelaskan pada masalah yang biasanya dijelaskan dalam makalah – makalah ilmu alam, seperti : geografi, fisika dan biologi. Tapi dalam lajunya penjelasan yang nantinya ditampilkan dalam makalah ini menurut perspektif agama yang akan ditunjang dengan dalil – dalil yang relevan dengan masalah ini.

Atmosfer adalah sesuatu yang bisa kita katakan sebagai salah kekuasaan Allah, yang patut kita pelajari dan tafakuri, karena dengan dipelajari maka kita bisa mengambil ibrah darinya dan dengan kita tafakuri kita bisa mendapatkan sesuatu yang bisa disebut dengan pahala. Dilandasi dengan ayat al qur’an pada surat Ali Imran ayat 190 yang berbunyi :

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لأولِي الألْبَابِ (١٩٠)

 

190. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.

Dengan ayat inilah kita bisa mengambil ibrah yang benar – benar bisa membawa kita pada kelompok orang yang berakal. Karena banyak sekali klasifikasi orang – orang yang ada di dunia ini, mulai berakal sampai tidak berakal.

 

1.2. Rumusan Masalah

Dalam surat Ali Imran ayat 190 yang tadi telah disinggung pada latar belakang, hal yang paling menonjol pada ayat itu adalah penciptaan atau prosesnya. Maka dalam rumusan masalah ini yang akan dipertanyakan adalah :

  1. Bagaimana proses terjadinya atmosfer[2]?
  2. Bagaimana relevansinya dengan Ilmu tauhid?

1.3. Sistem Penulisan

Dalam hal penulisan yang saya tampilkan adalah sistem yang biasanya dipakai oleh para penyusun makalah pada biasanya. Pada makalah ini yang membuat berbeda dengan makalah – makalah yang lain adalah terletak pada titik pengambilan sumber dan pengkritisan pendapat.

Pendapat yang saya ambil adalah pendapat para ahli yang berkompetensi dalam bidangnya masing – masing. Ada dua macam sistem penulisan yang saya rencanakan, diantaranya : dengan menyamakan pada makalah – makalah yang lain dan penulisan skripsi serta karya – karya tulis yang lainya.

 

 

BAB II

ISI

 

2.1. Relevansi Tauhid dengan Atmosfer dan Pencemaran Udara

            Bagi Anda, bernafas mungkin tidak lebih daripada menghirup udara dan kemudian mengembuskannya kembali. Tetapi, agar proses ini dapat berlangsung dengan baik, telah dibangun sistem yang sempurna dalam segala segi. Kita tidak perlu melakukan usaha sedikit pun untuk bernafas. Bahkan, kebanyakan orang mungkin sama sekali tidak pernah memikirkan secara sadar proses ini. Semua orang perlu bernafas secara terus-menerus, sejak kita hadir di dunia ini sampai kita meninggal. Semua keadaan yang dibutuhkan, baik di dalam tubuh maupun di lingkungan kita, telah diciptakan oleh Allah, dan karenanya, kita dapat bernafas dengan mudah.

Pertama sekali, agar manusia dapat bernafas, keseimbangan gas-gas dalam lapisan udara bumi haruslah diatur dengan tepat. Perubahan yang tipis saja di dalam keseimbangan ini dapat mengakibatkan hal yang fatal. Namun, gangguan itu tidak terjadi sama sekali, karena atmosfer bumi merupakan campuran khas yang dirancang sebagai gabungan dari berbagai keadaan yang sangat khusus, yang semuanya berpadu sehingga berfungsi secara sempurna.

Atmosfer bumi terdiri dari nitrogen (77 %), oksigen (21 %), karbondioksida (1 %), argon, dan gas-gas lainnya. Marilah kita mulai dengan yang terpenting di antara semua gas ini, yaitu oksigen.Oksigen sangat penting karena makhluk hidup membutuhkan gas ini agar dapat hidup. Untuk memperoleh oksigen, kita bernafas. Perbandingan oksigen di udara dipertahankan agar tetap berada dalam keseimbangan yang sangat halus dan cermat.

Pemeliharaan keseimbangan perbandingan oksigen di atmosfer diwujudkan melalui sistem “daur ulang” yang sempurna. Ummat manusia dan hewan secara berkesinambungan menggunakan oksigen, sementara itu mereka menghasilkan dan mengeluarkan gas karbondioksida, yang bagi mereka bersifat racun. Tumbuh-tumbuhan, di lain pihak, melangsungkan proses yang justru merupakan kebalikannya, dan menjaga kelangsungan hidupnya dengan cara mengubah karbondioksida menjadi oksigen. Setiap hari, bermiliar-miliar ton oksigen dilepaskan ke atmosfer oleh tumbuh-tumbuhan dengan cara ini.

Sekarang, jika manusia dan hewan melangsungkan reaksi kimia yang sama dengan tumbuh-tumbuhan, maka bumi, dalam waktu yang amat singkat, akan menjadi planet yang tak dapat dihuni makhluk hidup. Jika baik hewan maupun tumbuhan menghasilkan oksigen, atmosfer akan menjadi sangat mudah terbakar dan percikan api yang paling kecil sekali pun akan menyebabkan kebakaran yang hebat. Akhirnya, dengan skenario yang sedemikian, bumi akan tinggal jadi arang. Jika sebaliknya, baik tumbuhan maupun hewan sama-sama menghasilkan karbondioksida, akibatnya oksigen di atmosfer akan habis dengan cepat, dan dengan sendirinya, segera semua makhluk hidup akan menyongsong kematian karena tak bisa bernafas.

Dalam konteks agama Islam, berbagai kerusakan yang terjadi di darat maupun di laut sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dari cara pandang dan perilaku manusia terhadap alam (Q.S. Ar-Ruum: 41).

Artinya :  telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

 Perilaku ini bertentangan dengan tugas dan fungsi manusia sebagai hamba Allah (abdullah)dan khalifatullah fil ardl[3]yang berkewajiban untuk melakukan proses pengelolaan dan pemeliharan alam dan lingkungan sebagai media untuk beribadah kepada Allah dan menjalankan fungsi kekhalifahan. Manusia dilarang berbuat kerusakan sedikit pun di muka bumi setelah Allah memperbaikinya (Q.S. Al-A’raf: 56)

 
2.2. Hubungan Manusia dan Alam

Alam semesta termasuk bumi seisinya adalah ciptaan Tuhan dan diciptakan dalam keseimbangan, proporsional dan terukur, baik secara kualitatif maupun kuantitatif (QS:Ar-Ra’d: 8; Al-Qomar : 49 dan Al-Hijr:19). Bumi sebagai tempat tinggal manusia terdiri atas berbagai unsur dan elemen dengan keragaman dalam bentuk, proses dan fungsinya. Berbagai unsur dan elemen yang membentuk alam tersebut diciptakan Allah untuk memenuhi kebutuhan manusia dalam menjalankan kehidupannya di muka bumi, sekaligus merupakan bukti ke Mahakuasaan dan Kemahabesaran Sang Pencipta dan Pemelihara alam (QS: Ta-Ha; 53-54). Dialah yang menentukan dan mentaqdirkan segala sesuatu di alam semesta. Tidak ada sesuatu di alam ini kecuali mereka tunduk dan patuh terhadap ketentuan hukum dan qadar Tuhan serta berserah diri dan memujiNya (QS:An-Nur:41). 

Alam merupakan sebuah entitas yang tidak berdiri sendiri, akan tetapi berhubungan dengan manusia dan realitas yang lain Yang Ghaib dan supra-empirik. Alam merupakan representasi dari Yang Maha Menciptakan alam dan Yang Maha Benar, sumber keberadaan alam itu sendiri. Realitas alam ini tidak diciptakan dengan ketidak sengajaan (kebetulan atau main-main), akan tetapi dengan nilai dan tujuan tertentu (Q.S. Ali Imran: 191-192). Menurut pandangan Islam, alam mempunyai eksistensi riil, objektif serta bekerja sesuai dengan hukum-hukum yang berlaku tetap (qadar) bagi alam, yang disebut sebagai hukum Allah (sunnatullah). Sunnatullah ini tidak hanya berlaku bagi benda-benda alam, akan tetapi juga bagi tumbuhan, hewan dan manusia. Alam (lingkungan hidup) juga bersifat menyatu (holistik)[4] yang komponennya adalah Sang Pencipta, alam dan makhluk hidup (termasuk manusia). Masing-masing komponen mempunyai peran dan kedudukan yang berbeda-beda akan tetapi tetap berada dalam koridor rancangan Allah (sunantullah).

             Manusia merupakan bagian tak terpisahkan dari alam. Sebagai bagian dari alam, keberadaan manusia di alam adalah saling membutuhkan, saling mengisi dan melengkapi satu dengan lainnya dengan peran yang berbeda-beda. Hubungan manusia–alam ini adalah bentuk hubungan peran dan fungsi, bukan hubungan sub-ordinat (yakni: manusia adalah penguasa alam[5]). Sementara itu alam berhubungan pula dengan Tuhan yang menciptakannya dan mengaturnya. Alam pun sesungguhnya tunduk terhadap ketentuan dan hukum-hukum Allah. Adapun manusia mempunyai peran dan posisi khusus dibanding komponen alam dan makhluq ciptaan Tuhan yang lain, yakni sebagai khalifah, wakil Tuhan dan pemimpin di bumi (QS: Al-An’am: 165). Hubungan antara manusia dengan alam lingkungan hidupnya ini ditegaskan dalam beberapa ayat al Qur’an yang lain dan Hadist Nabi, yang  intinya adalah sebagai berikut :

  • Hubungan keimanan dan peribadatan. Alam semesta berfungsi sebagai sarana bagi manusia untuk mengenal kebesaran dan kekuasaan Tuhan, karena alam semesta adalah tanda atau ayat-ayat Allah. Manusia dilarang memperhamba alam dan dilarang menyembah kecuali hanya kepada Allah yang Menciptakan alam.
  • Hubungan pemanfaatan yang berkelanjutan. Alam dengan segala sumber dayanya diciptakan Tuhan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Dalam memanfaatkan sumberdaya alam guna menunjang kehidupannya ini harus dilakukan secara wajar (tidak boleh berlebihan atau boros). Demikian pula tidak diperkenankan pemanfaatan sumberdaya alam yang hanya untuk memenuhi kebutuhan bagi generasi saat ini sementara hak-hak pemanfaatan bagi generasi mendatang terabaikan. Manusia dilarang pula melakukan penyalahgunaan pemanfaatan dan atau perubahan alam dan sumberdaya alam  untuk kepentingan tertentu sehingga hak pemanfaatannya bagi semua kehidupan menjadi berkurang atau hilang.
  • Hubungan pemeliharaan untuk semua makhluk. Manusia mempunyai kewajiban untuk memelihara alam untuk keberlanjutan kehidupan, tidak hanya bagi manusia saja akan tetapi bagi semua makhluk hidup yang lainnya. Tindakan manusia dalam pemanfaatan sumberdaya alam secara berlebihan dan mengabaikan asas pemeliharaan dan konservasi sehingga mengakibatkan terjadinya degradasi dan kerusakan lingkungan, merupakan perbuatan yang dilarang (haram) dan akan mendapatkan hukuman. Sebaliknya manusia yang mampu menjalankan peran pemeliharaan dan konservasi alam dengan baik, maka baginya tersedia balasan ganjaran dari Allh swt.

 

2.3. Pandangan Islam tentang Lingkungan[6]

            Islam merupakan agama yang lengkap, serba cakup, termasuk yang berkaitan dengan lingkungan. Islam merupakan agama yang sangat memperhatikan lingkungan (eco-friendly) dan keberlanjutan kehidupan di dunia. Banyak ayat al-Qur’an dan teks al-Hadist yang menjelaskan, menganjurkan bahkan mewajibkan manusia untuk menjaga kelangsungan kehidupannya dan kehidupan makhluk lain di bumi, walaupun dalam situasi yang sudah kritis. Ayat yang berkaitan dengan alam dan lingkungan (fisik dan sosial) ini dalam alQur’an bahkan jauh lebih banyak dibandingkan dengan ayat-ayat yang berkaitan dengan ibadah khusus (mahdhoh[7]). 

Islam adalah  sebuah jalan hidup yang merupakan konsekuensi dari pernyataan atau persaksian (syahadah) tentang keesaan Tuhan (tauhid). Syari’ah adalah sebuah sistem pusat-nilai untuk mewujudkan nilai yang melekat dalam konsep (nilai normatif) atau ajaran Islam yakni tauhid, khilafah, amanah, halal dan haram.Berdasarkan atas pengertian ini maka ajaran (konsep) atau pandangan  Islam tentang lingkunganpun pada dasarnya dibangun atas dasar  5 (lima) pilar syariah tersebut yakni : 1) tauhid, 2) khilafah, 3) amanah, 4) keseimbangan (i’tidal) dan 5) istishlah. Untuk menjaga agar manusia bisa berjalan menuju tujuan penciptaannya maka (pada tataran praktis) kelima pilar syariah ini dilengkapi dengan 2 (dua) rambu utama yakni : 1) halaldan 2) haram. Kelima pilar dan dua rambu tersebut bisa diibaratkan sebagai sebuah “bangunan“ untuk menempatkan paradigma lingkungan secara utuh dalam perspektif Islam. Berikut ini akan di urai  makna keempat pilar dan dua rambu tersebut serta saling keterkaitannya satu dengan lainnya dalam konteks lingkungan (environment)  

 

  2.4. Tauhid

Nilai tauhid ini tidaklah hanya sebatas keimanan dalam hati semata. Nilai tauhid bagi umat muslim harus menjadi spirit bagi setiap tindakan atau perilakunya, baik yang berhubungan dengan orang lain, makhluk lain atau lingkungan hidupnya. Hal ini mengandung makna bahwa manusia sebagai makhluk Tuhan sekaligus sebagai hamba Tuhan (‘abdul Allah) harus senantiasa tunduk dan patuh kepada aturan-aturan yang telah ditetapkan Allah. Manusia bertanggungjawab kepada-Nya atas semua tindakan yang dilakukannya. Hal ini juga menyiratkan bahwa tauhid merupakan satu-satunya sumber nilai dalam etika. Pelanggararan atau penyangkalan terhadap nilai ketauhidan ini berarti syirkyang merupakan perbuatan dosa terbesar dalam Islam. Oleh karena itu tauhid merupakan landasan dan acuan bagi setiap perbuatan manusia, baik perbuatan lahir maupun perbuatan batin termasuk berfikir.  Bagi seorang muslim mukmin, tauhid harus masuk menembus kedalam seluruh aspek kehidupannya dan menjadi pandangan hidupnya. Dengan kata lain, tauhid merupakan sumber etikapribadi dan kelompok (masyarakat), etika sosial, ekonomi, dan  politik, termasuk etika dalam pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan, pengembangan sain dan teknologi.

 

2.5.  Khilafah[8] (perwalian)

Bermula dari landasan yang pertama yakni tauhid, Islam mempunyai ajaran atau  konsep yang bernama khilafah dan amanah. Konsep khilafah ini dibangun atas dasar pilihan Allah dan kesediaan manusia untuk menjadi khalifah (wakil atau wali) Allah di muka bumi (QS:Al-Baqarah: 30,  Al-Isra : 70, Al-An’am: 165 dan Yunus: 14). Sebagai wakil Allah, manusia wajib (secara aktif) untuk bisa merepresentasikan dirinya sesuai dengan sifat-sifat Allah. Sebagai wakil (khalifah) Allah, manusia harus aktif dan bertanggung jawab untuk menjaga bumi. Menjaga bumi berarti menjaga keberlangsungan fungsi bumi sebagai tempat kehidupan makhluk Allah termasuk manusia, sekaligus menjaga keberlanjutan kehidupannya.

Khilafah bisa juga bermakna kepemimpinan. Manusia adalah wakil Tuhan di muka bumi ini yang telah ditunjuk menjadi pemimpin bagi semua makhluk Tuhan  yang lain (alam semesta termasuk bumi dan seisinya (atmosfer, dan sumberdaya alam yang dikandungnya termasuk tumbuhan dan hewan ). Makna ini mengandung konsekuensi bahwa manusia harus bisa mewakili Tuhan untuk memimpin dan memelihara keberlangsungan kehidupan semua makhluk. Untuk menjalankan misi khilafah ini manusia telah dianugerahi oleh Tuhan kelebihan dibandingkan dengan makhluk lain, yakni kesempurnaan ciptaan dan akal budi yang tidak diberikan oleh Tuhan kepada makhluk lainnya.

Sebagai pemimpin, manusia harus bisa memelihara dan mengatur keberlangsungan fungsi dan kehidupan semua makhluk, sekaligus mengambil keputusan yang benar pada saat terjadi konflik kepentingan dalam penggunaan atau pemanfaatan sumberdaya alam. Pengambilan keputusan ini harus dilakukan secara adil, bukan dengan cara memihak kepada individu atau kelompok makhluk tertentu. Manusia harus bisa menegakkan amanah dan keadilan ditengah-tengah lingkungan alamnya di muka bumi ini, termasuk dalam lingkungan sosialnya. Penyelewengan terhadap amanah ini dengan demikian berarti juga melanggar asas  ketauhidan yang berarti merupakan perbuatan syirk dan dzalim.

Khalifah adalah juga amanah yang telah diberikan oleh Tuhan yang menciptakan manusia kepada manusia karena dipandang mampu untuk menegakkan kebenaran dan keadilan dimuka bumi. Oleh karena itulah maka pemahaman makna khilafah dan peran manusia sebagai khalifah di alam khususnya di muka bumi ini menjadi sangat penting karena akan menentukan keberhasilan atau kegagalan manusia dalam mengemban amanah yang telah diberikan Tuhan sekaligus yang telah disanggupinya. Tindakan-tindakan manusia yang berakibat terjadinya kerusakan di muka bumi sebagaimana di muka telah ditegaskan, merupakan pelanggaran atau penginkaran terhadap amanah yang berarti juga merupakan perbuatan dosa besar.

           

2.6.  Amanah

Bumi sebagai bagian dari alam semesta merupakan amanah dari Allah swt Sang Pencipta. Untuk menjaga keberlangsungan dan memenuhi hajat hidupnya, manusia mempunyai hak untuk memanfaatkan apa-apa yang ada di muka bumi (sumberdaya alam) bumi. Akan tetapi manusia baik secara individu maupun kelompok  tidak mempunyai hak mutlak untuk menguasai sumberdaya alam yang bersangkutan. Hak penguasaannya tetap ada pada Tuhan Pencipta. Manusia wajib menjaga kepercayaan atau amanah yang telah diberikan oleh Allah tersebut. Dalam konteks ini maka alam terutama bumi tempat tinggal manusia merupakan arena atau ajang uji bagi manusia. Agar manusia bisa berhasil baik dalam ujiannya, maka ia harus bisa membaca “tanda-tanda” atau “ayat-ayat” alam yang ditunjukkan oleh sang Maha Pengatur Alam. 

 

2.7.  Keseimbangan (i’tidal )

Alam diciptakan Allah dalam keberagaman kualitatif maupun kuantitatif seperti ukuran, jumlah, struktur, peran, umur, jenis kelamin, masa edar dan radius edarnya. Walaupun demikian, alam dan ekosistem ciptaan Tuhan yang sangat beragam ini berada dalam keseimbangan, baik keseimbangan antar individu maupun antar kelompok (QS: Al-Mulk: 67). Keseimbangan ini merupakan hukum Tuhan yang juga berlaku atas alam termasuk manusia. Keseimbangan ini bisa mengalami gangguan (disharmoni) jika salah satu atau banyak anggota kelompok atau suatu kelompok mengalami gangguan baik secara alamiah (karena sebab-sebab yang alamiah) maupun akibat campur tangan manusia. Jika terjadi gangguan terhadap keseimbangan alam, maka alam akan bereaksi atau merespon dengan membentuk keseimbangan baru yang bisa terjadi dalam waktu singkat, atau bisa pula dalam waktu yang cukup lama tergantung pada intensitas gangguan serta sifat kelentingan masing-masing sistem alam yang bersangkutan. Keseimbangan baru yang terbentuk ini sudah barang tentu bisa berbeda secara kuantitatif maupun kualitatif dengan keseimbangan sebelumnya. Demikian pula keseimbangan baru ini bisa bersifat merugikan, bisa pula menguntungkan bagi anggota komunitas atau kelompok yang bersangkutan. Perilaku dan perbuatan manusia terhadap alam termasuk antar manusia yang diharamkan (dilarang), sebenarnya bertujuan agar keseimbangan atau harmoni alam tidak mengalami gangguan. Larangan untuk tidak bertengkar, berkata kotor, berbohong, berburu, melukai atau membunuh hewan dan tanaman pada waktu ihram bagi orang yang sedang berhaji atau umrah, sebenarnya mengandung pesan bahwa keseimbangan lingkungan dan harmoni kehidupan tidak boleh diganggu dengan perbuatan-perbuatan yang merusak (haram).

 

2.8. Kemashlahatan (istishlah)

Kemashlahatan merupakan salah satu pilar utama dalam syariah Islam termasuk dalam pengelolaan lingkungan. Bahkan secara tegas Tuhan melarang manusia untuk melakukan perbuatan yang bersifat merusak lingkungan termasuk merusak kehidupan manusia itu sendiri, setelah Tuhan melakukan perbaikan (ishlah). Istishlah ini bahkan tidak hanya sepanjang umur dunia akan tetapi sampai ke kehidupan akherat (QS: Al- A’raf: 56).  Tujuan tertinggi dari perlindungan alam dan ekosistem ini adalah kemaslahatan dan kesejahteraan (istishlah) universal baik dalam kehidupan masa kini (di dunia) maupun kehidupan dimasa depan (di akhirat). Istishlah juga bisa bermakna pemeliharaan terhadap alam termasuk kepada kehidupan manusia, hewan dan tumbuhan di bumi. Hewan dan tumbuhan diciptakan Tuhan memang diperuntukkan bagi manusia untuk menunjang kehidupannya, dan bukan untuk dirusak. Dengan kata lain pemanfaatan alam termasuk hewan dan manusia adalah pemanfaatan yang berkelanjutan.

 

 

 

2.9.  Halal dan haram

Keberlanjutan peran dan fungsi alam serta harmoni kehidupan di alam ini (khususnya bumi sebagai planet yang dihuni manusia) oleh Islam dijaga oleh dua instrumen yang berperan sebagai rambu bagi manusia, yakni halal dan haram. Halal bermakna segala sesuatu yang baik, berakibat baik, menguntungkan, dan menenteramkan hati. Segala sesuatu yang menguntungkan atau berakibat baik bagi seseorang, masyarakat dan lingkungan alamnya serta lingkungan sosialnya adalah halal. Sebaliknya segala sesuatu yang jelek, membahayakan atau merusak  seseorang, masyarakat dan lingkungan alam dan sosialnya adalah haram. Segala yang membahayakan dan merusak fisik (tubuh) dan jiwa (rohani) manusia, serta alam lingkungannya adalah haram.

Konsep halal dan haram ini sebenarnya tidak hanya diberlakukan bagi manusia, akan tetapi juga berlaku bagi alam. Pelanggaran terhadap rambu-rambu ini akan mengakibatkan terjadi ketidak seimbangan atau disharmoni baik dalam kehidupan manusia maupun gangguan keseimbangan ekologis di alam.

BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

            Agama tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia. Kegiatan penyelamatan lingkungan merupakan bagian tidak terpisahkan dari ajaran agama. Penyelamatan lingkungan merupakan bagian dari kegiatan penghambaan diri (ibadah) dan pemenuhan tugas sebagai khalifatullah fil ardl. Setiap manusia harus aktif dalam kegiatan penyelamatan lingkungan sebagai bagian dari keterpanggilan dakwah dan penegakan nilai-nilai ajaran Islam. 

 

3.2. Saran

            Diharapkan setelah para pembaca menelaah makalah yang singkat ini mampu mengomentari dan memberi masukan guna kemaslahatan pada makalah – makalah selanjutnya, karena penulis sangat merasa tidak puas dengan makalah yang baru saja ia selesaikan.

            Mudah – mudahan dengan adanya makalah ini mampu membantu keilmuan – keilmuan yang sedang dikembangkan seperti halnya, geografi, fisika dan biologi.  Karena pada makalah ini tidak hanya satu aliran keilmuan saja yang ditampilkan. Dan juga semoga menjadi acuan keilmuan yang relevan dengan zaman.

 

 

Daftar Pustaka

 

Al Farazi, Fahrudin, Kecerdasan Bertauhid, Jakarta : Zaman ,2011

Wikipedia, 2011

M Quraisy Syihab, Menyingkap Tabir Ilahi, Jakarta: Lentera Hati, 1999 .

Musthofa,dkk,Tauhid, Yogyakarta:Pokja  Akademik, 2005

Mutthohari Murtadlo, Manusia dan Takdirnya, Jakarta: Basrie Press,1991l-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


[1] Diambil dari buku Rosihon Anwar, Ilmu Tasawuf

[2] Diambil dari buku geografi kelas 3 Aliyah

[3] Dari surat Al Baqarah, yang menjelaskan tentang Adam kepada para Malaikat

[4] Al Farazi, Fahrudin, Kecerdasan Bertauhid, Jakarta : Zaman ,2011, hlm 7

[5] Ibid hal 4

[6] Ibid  hal 5 dan 6

[7] Mahdlah berarti murni

[8] Disinggung dalam surat Al Baqarah tentang Kholifah itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s